Tersesat di Jalan yang Benar
#Keping Puzzle 1
Tersesat
di Jalan yang Benar
Matahari
siang itu masih terasa garang. Cahaya teriknya memantul di halaman sekolah
ketika aku melangkah keluar gerbang. Jalan sudah lengang. Anak-anak telah
pulang sejak beberapa saat lalu. Hanya tinggal suara dedaunan yang sesekali
digoyang angin dan langkah kakiku yang terasa sedikit lebih lambat dari
biasanya.
Hari
itu aku memang pulang paling akhir.
Seorang
murid masih duduk di bangkunya. Kepalanya menunduk, jemarinya menggenggam
pensil dengan erat. Satu demi satu huruf yang kutulis di papan tulis ia salin
dengan penuh kesungguhan. Ia murid kelas empat, tetapi kemampuan menulisnya
masih tertinggal dibanding teman-temannya.
"Pelan-pelan
saja," kataku sambil tersenyum. "Ibu tunggu sampai selesai."
Teman-temannya
sudah lama berlarian keluar kelas. Bahkan guru-guru lain pun telah bersiap
pulang. Namun anak itu tetap bertahan di bangkunya. Ia tidak mengeluh. Ia juga
tidak menyerah.
Entah
mengapa, melihatnya menulis dengan sabar justru membuatku belajar tentang
tanggung jawab. Ia mungkin belum mampu menulis secepat teman-temannya, tetapi
ia memilih menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya.
Ketika
akhirnya buku tulis itu kututup perlahan, wajahnya tampak lega.
"Terima
kasih, Bu."
Aku
hanya mengangguk sambil tersenyum.
Perjalanan
pulang hari itu terasa berbeda. Bayangan anak itu terus menemani langkahku.
Rasanya aku pernah berada di posisi yang sama: merasa tertinggal, merasa belum
cukup mampu, tetapi tetap memilih melangkah.
Tanpa
kusadari, pikiranku melayang pada sepuluh hari yang kuhabiskan di Kabupaten
Batanghari.
Kenangan
itu datang satu per satu, seperti kepingan puzzle yang mulai menemukan
tempatnya.
Ada
tawa bersama teman-teman.
Ada
candaan para fasilitator.
Ada
lelah yang ternyata berubah menjadi cerita.
Ada
pula kalimat-kalimat sederhana yang hingga hari ini masih tinggal di hati.
Padahal,
jika mengingat kembali, mengikuti pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah bukanlah
keputusan yang kuambil tanpa keraguan.
Malam
pertama di asrama BGTK Provinsi Jambi masih sangat kuingat.
Setelah
perjalanan panjang, aku dan teman sekamarku, Bu Refyenti, hanya berbaring
menatap langit-langit kamar.
Aku
memecah keheningan.
"Bu...
sebenarnya kita ini sedang apa, ya? Sampai-sampai rela meninggalkan keluarga
selama sepuluh hari."
Bu
Refyenti menoleh sambil tersenyum.
"Entahlah...
mungkin kita sedang tersesat."
Kami
berdua tertawa.
Kalimat
itu terdengar lucu, tetapi diam-diam kami memang sedang bertanya kepada diri
sendiri.
Mengapa
kami ada di sini?
Apakah
kami benar-benar pantas mengikuti pelatihan ini?
Apakah
kami siap jika suatu hari dipercaya menjadi kepala sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan
itu belum memiliki jawaban.
Lalu
Bu Zakiyah, teman sekamar kami yang baru kukenal beberapa jam, ikut tersenyum
mendengar percakapan kami.
Beliau
berkata pelan,
"Kalau
Ibu-Ibu sudah sampai di sini, berarti Allah melihat kemampuan yang mungkin
belum Ibu-Ibu lihat sendiri. Kalau merasa tersesat, anggap saja kita sedang
tersesat di jalan yang benar."
Kami
kembali tertawa.
"Tersesat
di jalan yang benar? Memangnya ada, Bu?" tanyaku sambil menggeleng.
"Ada,"
jawab beliau mantap. "Kadang Allah membawa kita ke tempat yang tidak
pernah kita rencanakan, justru agar kita bertumbuh."
Kalimat
itu sederhana.
Namun
entah mengapa, hingga hari ini aku masih mengingatnya.
Malam
pertama di asrama menyisakan banyak pertanyaan di kepalaku. Namun perlahan,
pertanyaan-pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya. Pada acara pembukaan
pelatihan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanjung Jabung Timur menyampaikan
sebuah kalimat yang hingga hari ini masih kuingat.
"Kalau
ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tetapi kalau ingin berjalan jauh,
berjalanlah bersama."
Kalimat
itu seolah melengkapi kepingan-kepingan yang sebelumnya masih berserakan.
Aku
mulai memahami bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling hebat atau
paling siap. Kami datang dengan cerita, kemampuan, dan keraguan yang
berbeda-beda. Namun justru karena berjalan bersama, kami saling menguatkan
ketika semangat mulai melemah dan saling mengingatkan ketika rasa percaya diri
mulai hilang.
Kini,
ketika mengingat kembali perjalanan pulang dari sekolah siang itu, aku merasa
muridku dan diriku sedang belajar pelajaran yang sama.
Ia
belajar menuntaskan satu halaman tulisan.
Aku
belajar menuntaskan satu perjalanan pertumbuhan.
Kami
sama-sama tidak melangkah secepat orang lain.
Tetapi
kami memilih untuk tidak berhenti.
Mungkin
hidup memang seperti menyusun puzzle.
Saat
menjalaninya, kita hanya melihat satu keping kecil yang tampak tidak berarti.
Namun setelah waktu berlalu, barulah kita menyadari bahwa setiap pertemuan,
setiap keraguan, setiap tawa, bahkan setiap rasa "tersesat", ternyata
sedang disusun menjadi gambar yang utuh.
Dan
aku bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan itu.
Barangkali
benar kata Bu Zakiyah.
Kadang
kita memang harus "tersesat di jalan yang benar" agar akhirnya
menemukan versi diri yang lebih baik.

Komentar
Posting Komentar