Tersesat di Jalan yang Benar
#Keping Puzzle 1 Tersesat di Jalan yang Benar Matahari siang itu masih terasa garang. Cahaya teriknya memantul di halaman sekolah ketika aku melangkah keluar gerbang. Jalan sudah lengang. Anak-anak telah pulang sejak beberapa saat lalu. Hanya tinggal suara dedaunan yang sesekali digoyang angin dan langkah kakiku yang terasa sedikit lebih lambat dari biasanya. Hari itu aku memang pulang paling akhir. Seorang murid masih duduk di bangkunya. Kepalanya menunduk, jemarinya menggenggam pensil dengan erat. Satu demi satu huruf yang kutulis di papan tulis ia salin dengan penuh kesungguhan. Ia murid kelas empat, tetapi kemampuan menulisnya masih tertinggal dibanding teman-temannya. "Pelan-pelan saja," kataku sambil tersenyum. "Ibu tunggu sampai selesai." Teman-temannya sudah lama berlarian keluar kelas. Bahkan guru-guru lain pun telah bersiap pulang. Namun anak itu tetap bertahan di bangkunya. Ia tidak mengeluh. Ia juga tidak menyerah. Entah mengapa, melihatnya ...